PRINGSEWU – Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Lampung I dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. H. Mukhlis Basri, M.Si., mengajak masyarakat terus menjaga dan melestarikan seni wayang kulit sebagai warisan budaya bangsa yang sarat dengan nilai moral, pendidikan, dan kebangsaan.
Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Tasyakuran/Selamatan Bersih Desa Pekon Tambahrejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, yang dirangkaikan dengan Pagelaran Wayang Kulit bersama dalang Muryanto dari Lampung Tengah di Balai Pekon Tambahrejo, Minggu (5/7) malam.
Pagelaran budaya yang dimulai pukul 20.00 WIB itu dipadati ratusan warga dari Pekon Tambahrejo dan wilayah sekitar. Masyarakat tampak antusias mengikuti pertunjukan wayang hingga larut malam sebagai bagian dari tradisi bersih desa yang rutin digelar sebagai ungkapan syukur atas nikmat dan keberkahan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Mukhlis Basri mengatakan, tradisi bersih desa yang dipadukan dengan pagelaran wayang kulit merupakan bentuk pelestarian budaya yang patut dijaga karena tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan menjaga nilai-nilai luhur bangsa.
“Wayang adalah identitas budaya bangsa yang harus kita rawat bersama. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur tentang kehidupan, kepemimpinan, gotong royong, dan kebangsaan yang sangat relevan untuk diwariskan kepada generasi muda,” ujar Mukhlis Basri.
Menurut mantan Bupati Lampung Barat dua periode itu, wayang merupakan media pendidikan karakter yang mampu menyampaikan pesan-pesan moral secara bijaksana. Karena itu, keberadaannya harus terus dipertahankan di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan budaya global.
“Melalui pagelaran seperti ini, generasi muda bisa mengenal akar budayanya sendiri. Jangan sampai mereka hanya mengenal budaya luar, sementara kekayaan budaya bangsa justru mulai ditinggalkan. Wayang harus terus diberi ruang agar tetap hidup dan berkembang,” katanya.
Mukhlis juga mengapresiasi masyarakat Pekon Tambahrejo yang tetap mempertahankan tradisi bersih desa sebagai bagian dari kearifan lokal yang memperkuat persatuan dan semangat gotong royong.
“Saya mengapresiasi masyarakat yang masih menjaga tradisi ini. Bersih desa bukan sekadar seremoni, tetapi wujud rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus momentum mempererat silaturahmi dan kebersamaan antarwarga,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah daerah bersama seluruh elemen masyarakat terus mendukung penyelenggaraan kegiatan budaya agar seni tradisional tetap lestari dan mampu menjadi daya tarik bagi generasi muda.
“Kehadiran masyarakat malam ini menunjukkan bahwa budaya kita masih dicintai. Melestarikan budaya berarti menjaga jati diri bangsa. Saya berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan sehingga nilai-nilai luhur budaya Indonesia tetap hidup dan diwariskan kepada anak cucu kita,” pungkasnya. (*)






