Begini, Kondisi Timah di Bangka Belitung Timur Yang Dinilai Kota Mati

70 views
Foto Ist

Jakarta, Harianduta.com-Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Bambang Pati Jaya. menyebutkan kondisi salah satu wilayah di Pulau Sumatera, yakni Bangka Belitung, khususnya di Belitung Timur, saat ini seperti kota mati.

Bambang mengatakan bahwa saat ini perekonomian di Bangka Belitung, khususnya Belitung Timur, tengah terpuruk, terutama selama 1-2 bulan yang lalu. Hal ini dipicu karena terhambatnya kegiatan pertambangan timah rakyat di wilayah tersebut.

 

 

Hal ini usia lerusahaan tambang timah milik negara yakni PT Timah Tbk (TINS) sedang jadi sorotan. Hal ini pasca munculnya tersangka baru yang sebelumnya menjerat mantan Direktur Utama TINS Reza Pahlevi terkait korupsi tata niaga komoditas timah Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik PT Timah tahun 2015 hingga tahun 2022.

Yang terbaru, Kejaksaan Agung (Kejagung) RI menetapkan pengusaha Harvey Moeis sebagai tersangka dugaan kasus korupsi tersebut. Moeis yang juga suami aktris Sandra Dewi itu langsung ditahan oleh penyidik ‘Gedung Bundar’, Rabu malam (27/3/2024).

 

Tak hanya Harvey Moeis, Kejagung RI juga menetapkan ‘Crazy Rich’ Pantai Indah Kapuk (PIK) yang terkenal yakin Helena Lim sebagai tersangka. Helena Lim merupakan Manager PT QSE.

 

Masih kata Bambang, bahwa saat ini perekonomian di Bangka Belitung, khususnya Belitung Timur, tengah terpuruk, terutama selama 1-2 bulan yang lalu. Hal ini dipicu karena terhambatnya kegiatan pertambangan timah rakyat di wilayah tersebut.

 

“Pada saat ini terpuruk ekonomi Bangka Belitung, bukan 1-2 minggu, tapi 1-2 bulan. Imlek kemarin diskusi dengan Pj Gubernur, saya sampaikan petasan itu Imlek muncul jam 7 malam H-1, hari ini saat bulan puasa tidak kedengaran itu, yang biasa anak minta beli petasan gak ada uang untuk beli petasan. Gak ada uang, sunyi senyap. Jadi kalau dibilang Beltim (Belitung Timur) kayak kota mati itu benar,” tuturnya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM dan PT Timah, dikutip Kamis (28/3/2024).

 

Tidak hanya itu, dia juga mengatakan bahkan perekonomian di Babel saat ini terpuruk yang mana pada awal tahun 2024 ini ekspor imah di wilayah itu menjadi 0. “Sekarang ini ekonomi Babel terjun bebas dari Desember 2023 hingga Januari 2024. Ekspor timah juga 0, dia berkontribusi 82% ekspor Babel jadi anjlok,” ujarnya.

 

Dia mengungkapkan bahwa perekonomian Bangka Belitung saat ini sedang terpuruk lantaran izin operasi komoditas timah, yang merupakan penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di Babel sempat terhenti akibat belum disetujuinya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) timah.

 

“Judul besar tata niaga pertimahan yang kita inginkan seperti apa, kita mau masyarakat kita bekerja dan negara dapat pemasukan, kemudian lingkungan terjaga,” ungkapnya.

Salah satu yang membuat terhambatnya komoditas pendongkrak perekonomian Babel yakni karena permasalahan regulasi dan perizinan yang dinilai perlu diuraikan segera. “Pada saat ini kita lihat seperti apa, jangankan para bupati, termasuk Dirut PT Timah pun ada keluhannya dalam operasional, dan ini belum maksimal, kami berharap pak Dirjen Minerba soal regulasi dan perizinan harus segera kita uraikan,” jelasnya.

Dengan begitu, Bambang menyarankan solusi agar permasalahan tersebut selesai dengan melakukan relaksasi ekspor, seperti yang pernah dilakukan pada 2021 lalu. Relaksasi tersebut dinilai sukses dalam mendongkrak perekonomian Bangka Belitung.

“Saya mendesak dan menyampaikan, sudah, kita relaksasi kembali seperti 2021. 2021 ekonomi Babel melesat ketika ada relaksasi itu. Tentu tidak euforia dan tetap terkendali,” tandasnya. (Sumber cnbcindonesia)