Panglima Perang Covid 19, Doni Monardo Meninggal, Dikenang Oleh Tokoh ini Karena Tak Pernah Pulang

57 views

Harianduta.com-Sosok Doni Monardo dikenang panglima perang dalam menangani pandemi Covid-19. Kenangan itu diutarakan Menko PMK, Muhadjir Effendy bertakziah ke rumah duka mantan Kepala BNPB, Doni Monardo. Muhadjir mengenang masa-masa bertugas bareng Doni saat menangani pandemi COVID-19.

“Saya mengenal beliau sangat intens terutama ketika bersama-sama menangani pandemi COVID-19 sejak awal yaitu ketika kita bersama-sama untuk mengevakuasi WNI dari Wuhan China untuk kemudian kita tampung di pusat karantina di Natuna, untuk kita membangun rumah sakit darurat. Kemudian melakukan verifikasi, kemudian mendapat reaksi negatif masyarakat Natuna, mereka demo dan alhamdulillah karena beliau orang yang sangat luwes sehingga bisa diredam hingga akhirnya berjalan lancar,” kata Muhadjir di rumah duka, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Senin (4/12/2023).

 

Muhadjir menuturkan dirinya bersama Doni saat itu juga mengevakuasi WNI yang berada di kapal yang berada di China. Para WNI itu dievakuasi dari dua kapal.

“Kemudian kedua, kita juga mengevakuasi mereka yang terjebak di kapal Diamond Princess di Yakohama yang merupakan episentrum kedua setelah Wuhan, kita juga menyelamatkan mengevakuasi dari kapal World Dream yang kemudian semuanya kita tampung di Sebaru bersama-sama Pak Doni. Dan Pak Doni di sana menyiapkan rumah sakit darurat dan semuanya lancar,” ujarnya.

 

Muhadjir mengatakan Doni Monardo tidak pernah pulang ke rumah selama menangani COVID-19. Doni, kata Muhadjir, berkantor dan tinggal di Kantor BNPB, Jakarta saat itu.

 

“Selama menangani COVID, Pak Doni tidak pernah pulang, jadi sehari-hari ngantor dan tinggal di kantor BNPB,” ucapnya.

 

Tetap Total Meski Punya Komorbid

Muhadjir menyampaikan kondisi Doni saat itu memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Sehingga Doni dibatasi untuk turun langsung menangani pandemi COVID-19.

 

“Waktu itu sebetulnya saya sudah diberitahu beliau tidak dalam kondisi prima ada penyakit komorbid. Cuman waktu itu belum tahu konsep komorbid, sehingga kita anggap walaupun ada gangguan kesehatan dianggap biasa saja,” ucapnya.