Bandar Lampung, Harianduta.com-Universitas Lampung (Unila) mengambil langkah strategis dalam pengembangan komoditas singkong nasional melalui peluncuran National Cassava Center (NCC), sebuah pusat kolaborasi yang menghubungkan dunia akademik, industri, pemerintah, dan petani dalam satu ekosistem terpadu.
Rektor Universitas Lampung, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., menyampaikan bahwa Lampung merupakan sentra produksi singkong terbesar di Indonesia. Namun hingga saat ini produktivitas petani masih relatif rendah, kualitas hasil belum seragam, penggunaan varietas unggul masih terbatas, dan inovasi hasil penelitian belum sepenuhnya sampai kepada petani. Di sisi lain, kebutuhan industri terus meningkat, sementara tantangan perubahan iklim, efisiensi budidaya, serta daya saing produk semakin besar.
Menurut Rektor, kondisi tersebut menjadi dasar pentingnya pembentukan National Cassava Center sebagai pusat kolaborasi nasional yang menghubungkan riset, inovasi, industri, dan petani dalam satu ekosistem terpadu. National Cassava Center tidak hanya diarahkan sebagai pusat penelitian, tetapi juga sebagai pusat transformasi pengembangan singkong Indonesia.
National Cassava Center akan dikembangkan di lahan hibah Pemerintah Provinsi Lampung yang berada di kawasan Kota Baru, Desa Purwotani, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.
Dalam pengembangannya, National Cassava Center memiliki tujuh fokus utama, yakni riset dan inovasi; konservasi plasma nutfah dan perbenihan; smart farming dan digital agriculture; pengembangan hilirisasi; pemberdayaan petani; pelatihan dan transfer teknologi; serta pengembangan kawasan edukasi (Edu-Park). Melalui pendekatan tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan di lapangan dan memberikan manfaat nyata bagi petani maupun industri.
Rektor menjelaskan, Unila juga telah menyusun tujuh program jangka pendek dan saat ini tiga program telah berjalan, yakni penetapan lima varietas unggul singkong yang menjadi fokus pengembangan di Provinsi Lampung, yaitu Kasetsart (UJ-5), Vamas-1, Daun Sembilan, Garuda, dan UJ-3 (Thailand); penyusunan Good Agricultural Practices (GAP) Cassava sebagai standar budidaya nasional; serta pembangunan demplot sebagai laboratorium lapangan untuk menguji dan mendemonstrasikan berbagai inovasi kepada petani.
Pelaksanaan demplot didukung PT Sungai Budi Group melalui proses seleksi proposal secara kompetitif. Dari delapan proposal yang diajukan, terpilih empat proposal terbaik dari tiga institusi, yaitu Prof. Suwarto dari IPB University, Prof. Robet Asnawi dari BRIN, serta Purba Sanjaya, S.P., M.Si., dan Fitri Yelli, Ph.D., dari Universitas Lampung. Selain itu, National Cassava Center juga telah menjalin kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung, PT Sungai Budi Group, PT Lambang Jaya, Masyarakat Singkong Indonesia, BRIN, IPB University, serta sejumlah institusi internasional, di antaranya Thai Tapioca Starch Association, Thai Tapioca Development Institute, Kasetsart University, dan Mahidol University.

Rektor menegaskan bahwa prioritas utama National Cassava Center bukan hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi menghasilkan solusi nyata bagi petani melalui penyediaan bibit unggul, pendampingan teknis, implementasi GAP, dukungan sarana produksi, hingga pengembangan hilirisasi agar nilai tambah singkong terus meningkat melalui pengolahan produk.
Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S., menyampaikan apresiasi atas hadirnya National Cassava Center. Ia mengungkapkan bahwa sejak tahun 1980 Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah menyebut singkong sebagai miracle tree. Setelah lebih dari empat dekade, menurutnya, National Cassava Center menjadi langkah nyata untuk mewujudkan potensi besar komoditas tersebut.
“Kalau saya menunggu 45 tahun, memang pantas saya menunggu. Dan hari ini rekan-rekan di Lampung mewujudkan National Cassava Center,” ujarnya.
Menteri menegaskan pengembangan National Cassava Center perlu berfokus pada action research, peningkatan produktivitas, peningkatan kandungan pati, serta penerapan Good Agricultural Practices bagi petani. Menurutnya, keberhasilan tersebut hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan petani.
Ia menambahkan bahwa kemajuan pertanian Indonesia tidak terlepas dari peran penelitian dan petani. Singkong juga dinilai memiliki potensi besar, tidak hanya sebagai bahan baku tapioka, tetapi juga sebagai sumber pangan, pakan, bahan bakar, hingga bioetanol.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, S.T., M.M., menyampaikan bahwa peresmian National Cassava Center bukan sekadar peresmian sebuah lembaga riset, melainkan menjadi titik awal pembangunan ekosistem yang mempertemukan ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dunia industri, dan kesejahteraan petani dalam satu tempat.
Menurutnya, lebih dari 70 persen produksi singkong nasional berasal dari Provinsi Lampung sehingga komoditas tersebut telah menjadi tanaman rakyat. Namun, selama ini petani dan industri masih berjalan sendiri-sendiri sehingga produktivitas belum berkembang secara optimal. Di tengah persaingan dengan negara produsen tapioka seperti Thailand dan Vietnam, petani di Lampung cenderung memperluas lahan, sedangkan negara pesaing lebih berfokus pada peningkatan produktivitas.
Melalui National Cassava Center, Gubernur berharap pengembangan singkong di Lampung dapat berorientasi pada peningkatan produktivitas, kualitas hasil, dan kesejahteraan petani melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan industri sehingga mampu memperkuat daya saing singkong Indonesia di tingkat global. (**)






