Tim PKM-RE Nanosorb.id Unila Ubah Tulang Ikan Sapu-Sapu dan Sekam Padi Menjadi Biokomposit HAp–SiO₂ sebagai Adsorben

Bandar Lampung, Harianduta.com-imbah perikanan dan pertanian yang selama ini minim pemanfaatan berhasil disulap menjadi material berdaya guna tinggi oleh mahasiswa Universitas Lampung (Unila). Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Nanosorb.id Unila menciptakan inovasi biokomposit hidroksiapatit–silikon dioksida (HAp–SiO₂) sebagai adsorben untuk menyerap pewarna metilen biru pada limbah cair industri tekstil.

​Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya volume limbah cair industri tekstil yang mencemari badan air akibat residu zat pewarna sintetis seperti metilen biru (methylene blue). Menjawab tantangan lingkungan tersebut, Tim Nanosorb.id memanfaatkan metode adsorpsi dengan mengombinasikan limbah tulang ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) sebagai sumber hidroksiapatit (HAp) serta sekam padi sebagai sumber silikon dioksida (SiO₂).

​Dalam proses sintesisnya, tulang ikan sapu-sapu dicuci, dikeringkan, dihaluskan, diayak, dan dikalsinasi pada temperatur 950 °C guna memperoleh bahan dasar HAp. Sementara itu, silika diekstraksi dari sekam padi. Kedua material ini kemudian dipadukan melalui metode presipitasi basah dengan variasi suhu kalsinasi 400 °C, 600 °C, dan 900 °C guna mengidentifikasi struktur pori dan performa adsorpsi terbaik.

​Ketua Tim PKM-RE Nanosorb.id menegaskan bahwa inovasi ini dirancang untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yakni pengurangan limbah padat dan remediasi pencemaran air.

​“Melalui pemanfaatan limbah tulang ikan sapu-sapu dan sekam padi, kami mengembangkan material biokomposit HAp–SiO₂ yang berfungsi efektif menjerap pewarna metilen biru. Langkah ini tidak hanya memberikan nilai tambah pada limbah lokal yang terbuang, tetapi juga menghadirkan solusi ramah lingkungan untuk pengolahan air tercemar,” jelasnya.

​Guna memastikan kualitas serta karakteristik material, tim melakukan serangkaian karakterisasi mutakhir menggunakan instrumen Scanning Electron Microscopy–Energy Dispersive X-Ray (SEM-EDX) untuk menganalisis morfologi permukaan, X-Ray Diffraction (XRD) guna menguji fase kristalinitas, serta Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) untuk mengidentifikasi gugus fungsi kimia.

​Luas permukaan dan porositas material turut diukur melalui analisis Brunauer–Emmett–Teller (BET). Selanjutnya, daya serap biokomposit terhadap zat pewarna diuji lewat sistem batch dan dievaluasi konsentrasi akhirnya menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Menariknya, riset ini berlanjut hingga perancangan prototipe filter air fungsional sebagai luaran aplikatif untuk pengolahan air limbah terpadu.

​Inovasi Tim Nanosorb.id Unila ini selaras dengan pesan tokoh lingkungan Prof. Emil Salim: “Janganlah kita berbuat seolah-olah alam ini hanya monopoli manusia.” Melalui riset ini, Unila terus mendorong generasi mudanya melahirkan teknologi hijau berbasis sumber daya lokal demi menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung keberlanjutan lingkungan.