Ketua GRIB Lampung Dendi Albar Rayakan Milad Marga Sekampung 

59 views

Lampung Timur, Harianduta.com-Marga Sekampung Libo Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur merayakan hari jadi ke-214 tahun, Rabu (12/6/2024).

Umur 214 tahun itu dihitung sejak Marga Sekampung Libo memiliki kepala desa. Perayaan Milad Marga Sekampung Libo Kecamatan Jabung itu juga turut dihadiri Wakil Bupati Lampung Timur, Azwar Hadi, Kapolsek Jabung, Danramil Jabung, Camat se-Lampung Timur.

Ketua DPD GRIB Lampung Dendi Albar yang juga bakal calon Wakil Bupati Lampung Timur juga datang menghadiri HUT kampung halamannya itu.

Perayaan hari jadi Marga Sekampung Libo ke-214 tahun itu turut dimeriahkan pentas seni tradisional masyarakat Marga Sekampung Libo.

Ketua Majelis Punyimbang Adat Lampung (MPAL) Sukuria Kusuma adok gelar Pangeran Mangku Diso menuturkan jika pentas seni tradisional dalam perayaan HUT ini merupakan upaya untuk melestarikan budaya Margo Sekampung Libo yang eksistensinya saat ini sudah hampir punah.

Pada milad Marga Sekampung Libo ke-214 ini juga diberikan sembilan piagam kepada kepala desa suku Jawa sekaligus memberikan adok (gelar) kepada mereka.

“Pemberian adok atau gelar ini bertujuan untuk menyatukan suku Lampung dan suku Jawa sesuai dengan bhineka tunggal Ika. Walaupun berbeda suku, bahasa, tapi kita tetap satu bangsa Indonesia,” ungkap Sukuria Kusuma.

Sebagai informasi, Sekampung Libo adalah sebuah Margo yang terbentuk sejak tahun 1810 Masehi.

Margo Sekampung Libo terbentuk sebagai konfederasi dari 12 Kebuwayan yang hidup dalam 6 desa yang sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan Jabung dan Marga Sekampung.

Buway atau Marga itu diantaranya, Buway Pemuka, Buway Beghuga, Buway Selagai, Buway Aji, Buway Subing, Buway Bugis, Buway Migo Andak, Buway Teladas.

Kemudian, Buway Unyi, Buway Cempako, Buway Kemetagho, dan Buway Bunga Mayang. Sukuria Kusuma berharap, dengan usia yang lebih dari dua abad, Marga Sekampung Libo tentunya sudah semakin dewasa.

“Semoga masyarakat adat bisa menghidupkan kembali budaya seni dan adat istiadat yang sudah lama dipelihara, agar menjadi lestari dan menambah khazanah kebudayaan bangsa khususnya di Lampung Timur,” tandas Sukuria. (**)