Merawat Motif, Memperluas Ruang: Dorongan Rama Apriditya untuk Sentra Batik Lampung

Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Bandar Lampung, Rama Apriditya, usai mengikuti Sidang Paripurna Istimewa HUT RI ke-81 di Gedung DPRD Kota Bandar Lampung, Jumat (14/8/2026). | Foto: Istimewa

BANDAR LAMPUNG, HARIANDUTA.COM — Peringatan Hari Batik Nasional menjadi momentum penting untuk melihat sejauh mana perajin batik lokal mendapatkan ruang dan akses di tanah kelahirannya sendiri. Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Bandar Lampung menilai, penguatan industri Batik Lampung tidak bisa sekadar bergantung pada imbauan penggunaan busana batik, melainkan butuh keberpihakan nyata melalui penataan infrastruktur dan aksesibilitas publik.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Bandar Lampung, Rama Apriditya, menegaskan pentingnya ketersediaan sentra batik yang terpadu dan mudah diakses masyarakat maupun wisatawan.

Menurutnya, potensi motif khas Lampung seperti Siger, Kembang Kopi, hingga Gajah harus didukung oleh fasilitas perkotaan yang representatif agar mampu bersaing secara ekonomi.

“Batik Lampung ini punya identitas visual yang sangat kuat dan bernilai seni tinggi. Namun, perajin kita tidak boleh berjuang sendirian. Pemerintah daerah perlu hadir memastikan adanya penataan ruang atau sentra kerajinan yang ramah pengunjung, dilengkapi fasilitas publik yang memadai, serta akses transportasi yang terintegrasi,” ujar Rama lewat keterangan tertulisnya, Jumat (2/10/2026).

Politisi muda yang baru saja dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara DPD Partai Golkar Kota Bandar Lampung periode 2026-2031 tersebut menambahkan, fungsi pengawasan legislatif akan terus difokuskan pada penganggaran dan kebijakan tata ruang yang berpihak pada UMKM ekonomi kreatif.

Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Rama merincikan tiga langkah strategis yang didorong Fraksi Golkar. Pertama, integrasi sentra kreatif dan tata ruang perkotaan dengan mendorong pemerintah kota mengalokasikan atau merevitalisasi kawasan khusus sebagai hub UMKM batik yang terkoneksi dengan pusat keramaian serta destinasi pariwisata.

Kedua, penyediaan aksesibilitas dan fasilitas publik yang inklusif untuk memastikan infrastruktur pendukung di sekitar kawasan kerajinan, seperti area parkir, trotoar, hingga kemudahan transportasi umum, terasa nyaman bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Ketiga, optimalisasi digitalisasi dan promosi di ruang publik dengan memanfaatkan aset daerah serta agenda rutin kota sebagai panggung promosi berkelanjutan bagi para perajin lokal.

“Sebagai anggota dewan sekaligus generasi muda di struktur Golkar, saya berkomitmen memastikan fungsi pengawasan dan penganggaran di DPRD benar-benar menyentuh kebutuhan perajin di akar rumput. Memajukan Batik Lampung berarti merawat warisan budaya sekaligus menggerakkan roda ekonomi kerakyatan di kota tercinta ini,” tutur Rama.

(*)