Lampung Selatan, Harianduta.com-Desa HELAU yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan dinilai memiliki potensi menjadi best practice pemberdayaan masyarakat karena menggabungkan berbagai aspek pembangunan desa dalam satu gerakan bersama.
Penilaian tersebut disampaikan Stakeholder and Government Engagement Manager ASB South and South-East Asia, Rofiqul Hidayat, saat audiensi dan kunjungan Paluma Nusantara bersama ASB South and South-East Asia dalam rangka koordinasi Program Green Pro 2025-2028 di Ruang Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan, Senin (21/9/2026).
Menurut Rofiqul, keunikan Desa HELAU terletak pada keterlibatan masyarakat dalam menjalankan konsep tersebut. Program yang awalnya dapat dipahami sebagai gerakan kebersihan dan keindahan lingkungan, berkembang menjadi pendekatan pemberdayaan yang melibatkan masyarakat desa secara langsung.
“Kalau Pemerintah Daerah membuat ide kan banyak, tapi responsif dari desa itu bagaimana. Itu yang menjadi uniknya. Menjadi sebuah gerakan akhirnya, pemberdayaan semuanya,” ujar Rofiqul saat audiensi dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan.
Ia mengatakan, Desa HELAU memiliki sejumlah indikator yang relevan dengan agenda pembangunan, mulai dari ketahanan masyarakat, lingkungan, kebencanaan hingga pemberdayaan.
Karena itu, pihaknya melihat pengalaman Lampung Selatan berpotensi menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan program serupa di wilayah lain.
“Kami melihat ada best practice di Lampung Selatan yang punya indikator, nilai ketahanan dan sebagainya. Ini menarik,” katanya.
Rofiqul menambahkan, pengalaman dan pembelajaran dari pelaksanaan Desa HELAU juga akan menjadi salah satu bahan yang dapat disampaikan dalam forum bersama pemerintah pusat.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan Supriyanto menjelaskan, Desa HELAU memang dirancang lebih luas dari sekadar menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan.
Konsep tersebut dikembangkan sebagai gerakan bersama yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.
HELAU merupakan akronim dari hijau, elok, lestari, aman dan berdaya. Implementasinya dikaitkan dengan ketahanan pangan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat hingga pengembangan potensi pariwisata.
“HELAU itu sesungguhnya sebuah gerakan bersama. Ketika desa, dusun, RT, sampai rumah masyarakat sudah HELAU, dari aspek kesehatan kita dapat, dari pengentasan kemiskinan juga dapat, termasuk penanganan rumah kumuh,” jelas Supriyanto.
Konsep tersebut kemudian diperkuat melalui sejumlah intervensi, salah satunya Teras HELAU yang menyasar rumah-rumah penerima program bedah rumah.
Melalui pendekatan itu, masyarakat tidak hanya mendapatkan perbaikan tempat tinggal, tetapi juga didorong memiliki sumber pangan dan aktivitas produktif di sekitar rumah, seperti kebun, kolam dan kandang.
“Jadi rumah itu nanti selain indah, juga ada aspek keberdayaannya setelahnya. Mereka dibuatkan kandang, diberikan ayamnya, dibuatkan kolam dan diberikan isinya. Kemudian dibina oleh perangkat daerah,” katanya.
Supriyanto mengatakan, pelaksanaan Desa HELAU juga melibatkan berbagai perangkat daerah sehingga program tidak berjalan secara sektoral. Berbagai aspek, mulai dari lingkungan, infrastruktur, kesehatan, ketahanan pangan, keamanan, sosial hingga pariwisata, diarahkan untuk saling terhubung dalam satu gerakan pembangunan desa.
Pertemuan dengan Paluma Nusantara dan ASB South and South-East Asia tersebut sekaligus menjadi bagian dari koordinasi pelaksanaan Program Green Pro 2025-2028.
Pemkab Lampung Selatan berharap kolaborasi tersebut dapat terus diperkuat, termasuk dalam mendukung keberlanjutan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan Desa HELAU agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.






