Industri Bioetanol PTPN I Ditunjang 42 Pabrik Gula

JAKARTA – Kesiapan PTPN I (Persero) untuk memasok bioetanol sebagai bahan campuran bensin pada program E20 pemerintah cukup mapan. Melalui PT Energi Agro Nusantara (Enero) anak perusahaan yang memproduksi bioetanol, PTPN I mendapat pasokan molases sebagai bahan baku dari 42 pabrik gula dalam grup yang saat ini dikelola PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Molases, produk sampingan dari pabrik gula milik sendiri menjadi pemacu optimistis mendukung program hilirisasi yang dicanangkan Presiden Prabowo.

“Ekosistem industri etanol PTPN I yang dalam hal ini dijalankan PT Enero sebagai anak Perusahaan sangat menguntungkan. Kami punya 42 pabrik gula tersebar di beberapa wilayah Indonesia yang saat ini dikelola PT SGN. Ini menjadi kekuatan kami untuk mendukung program E20 pemerintah secara sustainable,” kata Dr. Abdul Rivai Ras, Direktur Utama PTPN I dalam wawancara dengan salah satu stasiun televisi nasional di Jakarta, Senin (27/7/26).

Menurut Abdul Rivai Ras, keberadaan puluhan pabrik gula yang tersebar di Sumatera, Jawa, hingga Sulawesi menjadi keunggulan kompetitif PTPN I. Tetes tebu atau molases yang dihasilkan dari pabrik gula dalam satu grup Perusahaan, kata dia, akan menjadi kunci keberlanjutan produksi bioethanol.

“PTPN I bersama Perkebunan Nusantara Group memiliki kekuatan ekosistem yang terintegrasi melalui PT Sinergi Gula Nusantara dengan 42 pabrik gula. Kondisi ini memberikan kepastian pasokan molase sebagai bahan baku utama bioetanol sehingga menjadi fondasi penting dalam mendukung pengembangan industri bioetanol nasional,” ujar Abdul Rivai Ras.

Ia menjelaskan, saat ini Enero baru memproduksi sekitar 100 kilo liter etanol per hari. Dengan mandat pemerintah yang diberikan, pihaknya segera merancang perluasan untuk penambahan kapasitas produksi dengan kualitas terbaik. Ia juga menyebut, kordinasi dalam ekosistem rantai pasok bahan baku juga dimatangkan untuk bisa mendapatkan bahan baku sesuai dengan standar mutu etanol yang dihasilkan.

“Etanol yang dihasilkan juga sangat dipengaruhi oleh molases atau bahan baku yang kualitasnya memenuhi standar. Dalam rangka perluasan kapasitas produksi, kami juga terus mematangkan rantai pasok bahan baku dengan stakeholder dalam PTPN Group,” kata dia.

Kerjasama dalam PTPN Group, kata Rivai, juga diperluas hingga hulu. Selain peningkatan produktivitas, pihaknya juga melakukan Kerjasama optimalisasi pemanfaatan lahan serta program peremajaan (replanting) pada areal-areal yang dinilai memiliki potensi terbaik untuk pengembangan tebu.

“Kami terus melakukan optimalisasi lahan dan program replanting pada kawasan yang potensial. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan produktivitas tebu sekaligus memperkuat keberlanjutan pasokan bahan baku industri bioetanol,” katanya.

Meski demikian, Abdul Rivai Ras menegaskan bahwa pengembangan bioetanol tidak akan mengganggu upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada gula nasional. Menurutnya, selama kebutuhan gula konsumsi nasional masih menjadi prioritas, PTPN I akan mengembangkan bioetanol dengan memanfaatkan molase sebagai produk samping dari proses produksi gula, sehingga tidak mengurangi produksi gula konsumsi.

“Ketahanan pangan tetap menjadi prioritas utama. Selama Indonesia belum mencapai swasembada gula, pengembangan bioetanol dilakukan dengan memanfaatkan molase sebagai hasil samping industri gula. Dengan demikian, kebutuhan gula konsumsi tetap terjaga, sementara pengembangan energi terbarukan tetap berjalan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa setelah target swasembada gula nasional tercapai, pemanfaatan nira tebu sebagai bahan baku bioetanol dapat menjadi opsi strategis untuk meningkatkan kapasitas produksi bioetanol nasional.

Menurutnya, langkah tersebut akan membuka ruang yang lebih besar bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya domestik tanpa mengabaikan kepentingan sektor pangan.

“Ke depan, setelah swasembada gula dapat diwujudkan, pemanfaatan nira tebu sebagai bahan baku bioetanol menjadi opsi yang sangat potensial untuk meningkatkan kapasitas produksi. Dengan pendekatan tersebut, penguatan ketahanan energi dapat berjalan selaras dengan upaya menjaga ketahanan pangan nasional,” tutur Abdul Rivai Ras.

Ia menegaskan bahwa PTPN I memiliki peran strategis karena menjadi satu-satunya BUMN perkebunan yang mengintegrasikan pengembangan komoditas tebu, industri gula, dan bioetanol dalam satu ekosistem bisnis yang saling mendukung.

“Di PTPN I, ketahanan pangan dan ketahanan energi berjalan beriringan. Keduanya bukan pilihan yang saling mengurangi, tetapi saling menguatkan. Itulah peran strategis yang kami emban sebagai bagian dari upaya mendukung agenda besar pemerintah menuju kemandirian pangan dan energi nasional,” pungkasnya. (*)