Oleh: Darwin Ruslinur. SE, MM. Jurnalis Senior Lampung.
*SERING* ada yg banyak bertanya: mengapa seorang jurnalis (wartawan) harus bersikap kritis dan tak pernah merasa kehabisan bahan untuk menulis?
Sejatinya seorang jurnalis memang harus demikian. Bersikap kritis karena pran utamanya adalah menjaga kepentingan publik dan menegakkan kebenaran, bukan sekedar menjadi corong *kekuasaan.*
Untuk _memback-up_ pran strategis tsb, seorang jurnalis pantang merasa kehabisan bahan untuk terus menulis sebuah kebenaran. Karena, ini merupakan _fundamental_ dalam dunia pers.
Dunia disekitar kita bergerak secara _dinamis_ dan terus berubah setiap detik dg pasokan peristiwa yg tidak terbatas. Bagi jurnalis yg memiliki kepekaan tinggi, bahan tulisan tidak selalu berupa peristiwa besar, melainkan akumulasi dari berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Lalu, pertanyaannya: mengapa seorang jurnalis sejati selalu memiliki hal untuk ditulis? Salah satu jawabannya adalah kepekaan terhadap sudut pandang (_Perspektive_). Misalnya, dua orang jurnalis bisa melihat satu peristiwa yg sama, namun menghasilkan dua berita yg berbeda.
Kemampuan jurnalis menggali sudut pandang (_Angle_) unik membuat satu topik sederhana bisa dikembangkan menjadi puluhan artikel yg menarik. Jurnalis tidak sekedar melaporkan apa yg terlihat, melainkan menganalisis mengapa dan bagaimana sesuatu terjadi.
Sikap selalu penasaran seorang jurnalis (_Skeptisme dan keingintahuan_) inilah yg mendorong jurnalis bersikap kritis dan tiada hari tanpa menulis. “Kalian harus ingat ya, jurnalis tak boleh cuma jadi corong kekuasaan, tetapi kalian harus berani kritis untuk kebenaran,” pesan Alm Rosihan Anwar, tokoh Pers Nasional, kepada kami saat mengikuti pelatihan jurnalistik di Jakarta, beberapa tahun silam.
Bahan tulisan lahir dari pertanyaan. Jurnalis yg profesional dibekali rasa ingin tahu yg tinggi dan sikap kritis. Ketika melihat suatu kebijakan baru, tren di media sosial atau perubahan harga pasar, jurnalis pasti akan langsung mengajukan pertanyaan:
Siapa yg diuntungkan? Siapa yg dirugikan? Apa dampak jangka panjangnya?. Pertanyaan-pertanyaan inilah yg kemudian bertransformasi menjadi produk jurnalistik. Semoga catatan ringan (Caring) ini bermanfa’at untuk menambah perbendaharaan pengetahuan tentang wartawan.***




