Lampung Selatan, Harianduta.com-Waktu menunjukkan pukul 03.20 WIB di Masjid Agung Kalianda, Jumat dini hari. Suasana masjid masih diselimuti keheningan iktikaf. Sebagian jemaah larut dalam doa, sebagian lain bersiap sahur.
Di sudut pintu keluar masjid, seorang pria tampak bersandar dengan tubuh letih. Di sampingnya, sebuah ransel besar bertempel stiker bendera Indonesia dan Arab Saudi menjadi penanda perjalanan panjang yang sedang ia tempuh.
Pria itu adalah Muhammad Sofian Saury (33), atau yang akrab disapa Fyan, seorang musafir asal Surabaya yang sedang menapaki perjalanan spiritual berjalan kaki menuju Mekkah.
Perjalanannya sudah memasuki hari ke-121 ketika langkahnya singgah sejenak di Kalianda, Lampung Selatan.
Momen yang kemudian mengharukan itu bermula ketika Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, selesai melaksanakan salat tahajud berjamaah di masjid tersebut.
Saat hendak menuju teras masjid untuk sahur bersama rombongan, pandangannya tertuju pada sosok pria asing yang duduk menyandar di balik pintu. Pria itu terlihat mencoba beristirahat diam-diam, seolah tak ingin mengganggu jemaah yang tengah beribadah.
Alih-alih berlalu, Bupati Egi justru menghentikan langkahnya. Ia mendekat dan menyapa pria tersebut. Percakapan sederhana pun mengalir di tengah dini hari yang tenang.
Dari dialog singkat itu, terungkap kisah perjalanan panjang Fyan yang berjalan kaki dari Surabaya menuju Tanah Suci.
Mendengar cerita tersebut, Bupati Egi spontan memberikan santunan sebagai bentuk kepedulian sekaligus bekal bagi perjalanan Fyan yang masih sangat panjang.
Bagi Fyan, pertemuan itu menjadi kejutan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Saya kaget sekali. Saya tidak pernah sebelumnya bertemu orang besar. Masuk ke masjid saja tadi sebenarnya saya malu, takut mengganggu. Tapi saya sangat senang, tiba-tiba Pak Bupati sendiri yang menghampiri saya di pojokan ini,” kata Fyan dengan mata berkaca-kaca.
Pertemuan singkat itu terasa seperti oase bagi Fyan. Ia mengaku, meski semangatnya masih kuat melanjutkan perjalanan menuju Mekkah, logistik yang dibawanya mulai menipis. Persediaan obat-obatan yang ia bawa dari Surabaya kini hampir habis.
“Persediaan obat-obatan saya sudah hampir habis. Sekarang tinggal balsem dan sedikit vitamin saja,” ujarnya pelan.
Sentuhan kepedulian yang ia terima di Masjid Agung Kalianda itu menjadi suntikan energi baru. Bagi Fyan, bantuan tersebut bukan sekadar materi, tetapi juga dukungan moral untuk terus melangkah menuju kiblat.
Sebelum kembali melanjutkan perjalanan, ia pun menyampaikan doa untuk pemimpin daerah yang menghampirinya di sudut masjid pada dini hari itu.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, atas perhatian dan bantuannya. Semoga beliau sehat selalu, murah rezeki, panjang umur, dan menjadi pemimpin yang disukai rakyatnya,” ujar Fyan.
Setelah itu, ia kembali merapikan ransel besarnya, bersiap melanjutkan langkah panjang yang telah ia mulai lebih dari empat bulan lalu.
Perjalanan menuju Tanah Suci masih jauh, tetapi di Kalianda, seorang musafir menemukan sejenak kepedulian di tengah sunyinya perjalanan.






